
KANGJEPRET.ID – Pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dinilai semakin mendesak untuk menghadapi ancaman banjir rob, penurunan muka tanah, serta dampak perubahan iklim. Hal tersebut menjadi salah satu isu utama dalam seminar bertajuk The Giant Sea Wall of Java’s Northern Coast: Advancing Coastal Resilience and National Economic di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) Habibie Razak mengatakan berbagai kajian mengenai kondisi Pantura telah dilakukan sehingga pembangunan Giant Sea Wall dinilai tidak lagi sebatas wacana. “Studinya kan sudah banyak dilakukan di Pantai Utara (Pantura) Jawa, dan ini menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan segera,” ujar Habibie kepada wartawan.

Menurut Habibie, besarnya proyek tersebut juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, khususnya insinyur dalam negeri. Karena itu, forum di Unpar menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya future ready engineers yang memiliki kemampuan mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi konstruksi Giant Sea Wall.
Wakil Kepala I Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Darwin Trisna Djajawinata menilai pembangunan Giant Sea Wall harus dilihat lebih luas daripada sekadar membangun infrastruktur pengaman pantai. Menurutnya, proyek tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan Pantura sebagai kawasan yang tangguh, sejahtera, berdaya saing dan berkelanjutan. “Pada akhirnya yang kita bangun di Pantura bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi tentang bagaimana kita meningkatkan kualitas hidup, membuka peluang, dan membangun masa depan bagi generasi yang akan datang,” kata Darwin.

Data yang dipaparkan Darwin menunjukkan besarnya posisi strategis Pantura bagi perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS 2025 yang disampaikan dalam seminar, kawasan Pantura Jawa menyumbang sekitar 28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional atau setara sekitar 395 miliar dolar AS. Kawasan tersebut juga menjadi tempat tinggal dan sumber penghidupan sekitar 48 juta penduduk.
Karena itu, Darwin menyebut Pantura sebagai salah satu urat nadi perekonomian Indonesia. Kawasan tersebut menjadi koridor yang mempertemukan pusat perkotaan, kawasan industri, perdagangan, permukiman, pelabuhan dan berbagai aktivitas ekonomi. Namun, besarnya aktivitas tersebut sekaligus membuat kawasan Pantura menghadapi tekanan lingkungan dan risiko bencana yang semakin kompleks.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Nazib Faizal, menekankan bahwa perlindungan Pantura tidak cukup dilakukan melalui pembangunan tanggul laut semata. Giant Sea Wall diarahkan menjadi bagian dari sistem perlindungan pesisir yang lebih luas dan terintegrasi. Pendekatan tersebut diperlukan agar persoalan pesisir dapat ditangani secara menyeluruh.
Seminar yang diikuti sekitar 450 peserta dari berbagai latar belakang disiplin tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, insinyur, praktisi dan pelaku industri. Selain Habibie Razak dan Darwin Trisna Djajawinata, forum menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional serta membahas aspek ketahanan pesisir, pembiayaan, teknologi dan keberlanjutan. Dengan kompleksitas proyek yang mencakup pesisir Banten hingga Jawa Timur, Giant Sea Wall diharapkan tidak hanya menjadi benteng menghadapi ancaman laut, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan kawasan Pantura untuk jangka panjang.

