
KANGJEPRET.ID — Ketika matahari terbenam di Bandung, Jalan Asia Afrika tidak lantas terlelap dalam memori sejarahnya. Di bawah sorotan lampu kota yang memantul pada dinding-dinding gedung Art Deco—saksi bisu Konferensi Asia Afrika 1955—sebuah transformasi magis terjadi.
Jalanan yang dulunya menjadi panggung diplomasi dunia, kini bermetamorfosis menjadi teater rakyat yang riuh, hidup, dan paradoksal. Di sinilah, di antara deru kendaraan dan langkah kaki turis, fenomena sosial yang unik mengambil tempat: parade “hantu” yang tidak menebar teror, melainkan menawarkan tawa dan swafoto.

Bagi para pelancong, mereka adalah atraksi; sebuah sensasi hiburan murah meriah di mana ketakutan menjadi komoditas yang bisa dibeli oleh lembaran Rupiah.
Project photo ini mengajak Anda untuk berhenti sejenak, tidak sekadar melihat kostum yang mereka kenakan, melainkan menatap mata di balik topeng silikon dan lapisan bedak tebal itu.
Di sana, tersembunyi kisah tentang bertahan hidup, di mana wajah-wajah manusia berjuang menopang ekonomi di tengah kerasnya aspal kota. Proyek ini menyingkap enam profil utama, sebuah mikrokosmos dari keberagaman demografi pekerja kreatif jalanan ini.

Di ujung spektrum usia pemeran sosok hantu, kita bertemu dengan Agung Hanafi. Di usianya yang ke-70 tahun, Agung adalah antitesis dari karakter yang ia perankan. Sebagai Pocong, hantu lokal yang identik dengan kematian dan kekakuan.
Agung justru harus menunjukkan ketahanan fisik yang luar biasa. Tubuh renta tujuh dekade berdiri tegak berjam-jam demi menghidupi dirinya istri dan cucu-cucunya yang menanti di rumah kontrakan.
‘Sosok Pocong’ ini fasih menjawab pertanyaan turis-turis asing yang bercakap dengannya. Berpuluh tahun Agung menjadi guide turis asing di Bali, Yogya hingga Bandung.
Semesta membawanya kembali berhadapan dengan turis, bedanya kini Agung mengenakan kafan sebagai outfitnya. Potret Agung adalah representasi kegigihan lansia yang menolak menyerah pada zaman.

Bergeser ke figur yang lebih muda, ada Andi Sugiarto (45 tahun). Ia menghidupkan Mak Lampir, ikon horor legendaris produk sandiwara radio Indonesia di tahun 80-an. Tidak ada tawa melengking karakter khas nenek sihir yang dahulu dipopularkan oleh artis Farida Pasha ini .
Kini sosok Mak Lampir ini memberikan sensasi ketakutan bagi para Gen X yang mengalami kejaayaan sandiwara radio masa itu. Transformasi Andi menjadi sosok wanita tua yang menyeramkan adalah bukti profesionalitas jalanan—sebuah dedikasi total pada peran yang ingin ditampilkan.

Jalan Asia Afrika juga menjadi melting pot budaya pop global, seperti yang ditampilkan oleh Maradoni (37 tahun) Maradoni menyembunyikan wajahnya di balik topeng The Reaper (Malaikat Pencabut Nyawa). Ironisnya, di balik topeng kematian itu, terdapat seorang pria yang tampak jauh lebih muda dari usianya, seolah menertawakan waktu yang tidak mampu membuatnya tua.
Maradoni tidak sendiri, bersama saudara kembarnya bergantian memerankan sosok sang pencabut nyawa. (Bisa Anda tebak siapa nama saudara kembarnya?).

Sementara itu, Isma (27 tahun), membawa mitologi Yunani ke trotoar jalanan Bandung sebagai Medusa. Sosok demigod yang membuat manusia membatu saat menatap matanya.
Isma sebagai satu-satunya representasi perempuan dalam narasi ini, Isma menawarkan kontras yang tajam: ular-ular berbisa di kepalanya bersanding di jalanan yang didominasi laki-laki yang bahkan memerankan hantu-hantu perempuan.
Regenerasi “hantu” pun terus berjalan. Beta (25 tahun) dan Fajar alias Ajay (22 tahun) mewakili semangat kaum muda.

Beta memilih peran Hantu Walid, sosok antagonis sinetron Malaysia yang viral di medsos. Walid tampil dengan berbalut serban bernuansa religius . Mengingatkan pada sosok kiai kondang asal Kota Bandung. Namun sosok Walid ini kini tampil sebagai sosok hantu dengan sentuhan kengerian di matanya.
Sedangkan Fajar, si bungsu dalam kelompok ini, mengadopsi ketakutan modern lewat sosok Suster Valak. Hantu impor produk Holywood menyajikan sosok biarawati hantu yang populer di franchise film horor Conjuring.

Wajah pemuda lokal Bandung yang polos bersembunyi di balik riasan hantu biarawati Hollywood, menciptakan benturan budaya yang unik sekaligus harmonis di trotoar Asia Afrika.
Melalui rangkaian foto potret ini, kita tidak sedang melihat hantu. Kita sedang menatap cermin realitas sosial. Ini adalah kisah tentang Agung, Andi, Maradoni, Isma, Beta, dan Fajar. Mereka yang menjadikan rasa takut sebagai harapan, dan menjadikan jalanan sebagai panggung kehidupan.
(Foto dan naskah ini dipamerkan pada pameran Photo’s Speak UIN Sunan Gunung Djati dengan tajuk Aletheia pada tanggal 20-22 Desember 2025)
