
KANGJEPRET.ID – Riuh tepuk tangan memenuhi Grey Art Gallery saat Persib Bandung resmi memperkenalkan Ragnar Oratmangoen sebagai amunisi baru menghadapi Liga 1 musim 2026/2027. Di tengah sorotan kamera dan antusiasme Bobotoh, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik. Seorang seniman berdiri tenang di depan selembar kanvas putih, membiarkan ujung pensilnya bercerita.
Dia adalah Toni Masdiono, perupa asal Bandung yang dipercaya mengabadikan momen spesial itu melalui sketsa. Tanpa bantuan proyektor ataupun cetakan, garis demi garis mulai membentuk wajah Ragnar. Sesekali ia memperhatikan sang pemain, lalu kembali menggoreskan pensil dengan gerakan yang mantap. Perlahan, sosok penyerang Timnas Indonesia itu muncul di atas kertas.

Banyak pengunjung yang awalnya datang untuk melihat peluncuran pemain baru akhirnya ikut menyaksikan proses menggambar tersebut. Mereka berhenti beberapa saat, mengeluarkan ponsel untuk merekam, lalu saling berbisik kagum melihat bagaimana sebuah wajah dapat lahir hanya dari kumpulan garis hitam.
Bagi Toni, menggambar bukan sekadar menghasilkan potret yang mirip. Ada cerita yang ingin disimpan dalam setiap goresan. Menurutnya, sepak bola dan seni sama-sama mampu membangkitkan emosi, menghadirkan kenangan, serta menyatukan banyak orang dalam satu pengalaman yang sama. Karena itu, momen pengenalan Ragnar dan Gakuto Notsuda menjadi peristiwa yang layak diabadikan dalam bentuk karya.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari konsep Positive Movement yang diusung Persib bersama Grey Art Gallery. Klub kebanggaan Bobotoh itu ingin menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya tentang pertandingan selama 90 menit, tetapi juga dapat bertemu dengan dunia seni, budaya, dan kreativitas. Peluncuran pemain pun terasa lebih hangat karena dibalut sentuhan artistik yang dekat dengan masyarakat.
Ketika acara berakhir, sketsa wajah Ragnar dan Gakuto telah selesai dikerjakan. Karya itu kemudian dipajang sebagai bagian dari pameran Cultura Persib, sekaligus menjadi pengingat bahwa sebuah momen bersejarah tidak selalu diabadikan lewat bidikan kamera. Kadang, selembar kertas, sebilah pensil, dan tangan seorang seniman sudah cukup untuk menyimpan cerita yang akan dikenang Bobotoh dalam waktu yang lama.

