
KANGJEPRET.ID – Ada kepuasan tersendiri ketika memotret menggunakan kamera yang usianya jauh lebih tua daripada sebagian besar fotografer yang menggunakannya. Namun, kepuasan itu datang bersama satu konsekuensi: prosesnya tidak sederhana.
Itulah yang saya rasakan ketika mencoba Leica III D.R.P. buatan 1934. Kamera rangefinder tua ini membuat proses memotret terasa seperti kembali ke masa ketika fotografer tidak bisa begitu saja mengarahkan kamera, menekan tombol, lalu mendapatkan gambar dalam hitungan sepersekian detik.

Shadow Self Protrait (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Film yang digunakan adalah Kodak ColorPlus. Rol film tersebut saya beli di DOSS, Jalan Sunda, Bandung. Dari sinilah petualangan sebenarnya dimulai.
Memasang film ke Leica III D.R.P. tidak semudah memasukkan rol film ke kamera SLR analog yang muncul beberapa dekade setelahnya. Mekanismenya berbeda dan membutuhkan ketelitian. Kamera tua ini juga tidak memberikan pengalaman membidik seperti kamera modern.

Lukisan di Braga (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Untuk mengukur pencahayaan saat pemotretan saya menggunakan aplikasi lightmeter yang berlimpah di app store ponsel saya. Kamera setua ini sudah dipastikan tidak memiliki pengukur cahaya terintegrasi dengan bodi kamera.
Jendela untuk focusing dan jendela pembidik berada di tempat yang terpisah. Artinya, mata harus berpindah dari satu jendela ke jendela lainnya. Belum lagi urusan kecepatan rana. Shutter speed maksimal kamera ini hanya 1/500 detik. Untuk kecepatan di bawah 1/30 detik, pengaturannya menggunakan dial yang berbeda di bagian depan kamera.
Pokona mah riweuh.
Bagi fotografer yang terbiasa dengan kamera digital, mirrorless, DSLR, bahkan kamera analog SLR yang lebih muda, Leica III D.R.P. terasa seperti mengajak tubuh untuk mengingat kembali proses yang selama ini dipangkas oleh teknologi.

Melintasi Pocong Asia Afrika (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Memotret subjek yang bergerak cepat menjadi tantangan tersendiri. Hampir bisa dipastikan bakal hese pisan.
Tidak ada autofocus. Tidak ada layar untuk memastikan apakah fokus sudah tepat. Tidak ada kemampuan burst dengan belasan frame per detik. Tidak ada pula kesempatan untuk langsung melihat hasil foto.
Cara seperti ini membuat fotografer tidak hanya memotret dengan mata, tetapi juga dengan prediksi.
Fotografer harus menjadi lebih prediktif. Posisi subjek harus diperkirakan. Fokus harus disiapkan sebelum momen terjadi. Setelah itu tinggal menunggu subjek masuk ke area yang sudah diperkirakan dan menekan tombol rana pada saat yang tepat.
Tantangan lainnya datang dari lensa. Leica III D.R.P. yang saya coba menggunakan lensa yang usianya lebih muda beberapa puluh tahun dibandingkan bodinya. Lensanya adalah Industar-22 50/3.5 Collapsible, lensa buatan era Uni Soviet.

Family Portrait (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Kombinasi kamera dan lensa tersebut membuat pengalaman memotret terasa semakin berbeda. Semuanya serba manual. Setiap keputusan sebelum menekan shutter terasa lebih penting karena hasilnya tidak bisa langsung diperiksa.
Lalu tibalah saat yang paling ditunggu: melihat hasil film.
Film Kodak ColorPlus tersebut kemudian dicuci dan di-scan di Circa, Jalan Pajajaran, Bandung. Hasilnya?
Jika Anda terbiasa dimanjakan foto-foto yang serba tajam, bersih, detail, dan kontras dari kamera digital atau ponsel terbaru, bersiaplah untuk terkaget-kaget.
Foto yang dihasilkan Leica tua ini menghadirkan grain khas film negatif analog. Warnanya cenderung kekuningan, karakter yang sangat terasa dari Kodak ColorPlus. Detailnya tidak setajam hasil kamera digital modern. Kontrasnya pun tidak selalu sempurna.
Tetapi justru di situlah daya tariknya.

Self Portrait (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Ada karakter yang muncul dari ketidaksempurnaan tersebut. Grain, warna, sedikit softness, dan karakter optik lensa membuat foto terasa berbeda dari gambar yang dihasilkan sensor digital. Foto tidak lagi sekadar kumpulan detail yang sangat bersih, tetapi memiliki tekstur dan atmosfer.
Sayangnya, cerita pengujian kamera ini tidak berhenti pada persoalan karakter gambar.
Masalah baru diketahui setelah rol film selesai digunakan dan diproses. Dari 36 bingkai yang tersedia, beberapa frame ternyata kosong melompong.

Belakangan diketahui, shutter cloth kamera ternyata tidak sepenuhnya membuka ketika digunakan pada kecepatan rana 1/500 dan 1/200 detik. Masalah tersebut baru terlihat setelah film dicuci dan di-scan.
Ada satu kesalahan lain yang justru datang dari saya sendiri. Saat melakukan uji coba kamera, saya tidak mencatat dengan rapi objek yang dipotret, shutter speed, dan aperture yang digunakan pada setiap frame.
Padahal, untuk sebuah kamera yang sedang diuji sebelum dijual kembali, catatan seperti itu penting. Dengan mencatat setiap frame, kita bisa mengetahui hubungan antara pengaturan kamera dan hasil yang muncul di film. Ketika terjadi masalah, penyebabnya juga lebih mudah dilacak.
Dalam proses uji coba ini, saya akhirnya menyadari bahwa kamera analog tua tidak cukup hanya dites dengan cara “bisa memotret atau tidak”.

Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Apakah seluruh rentang shutter speed bekerja? Apakah shutter membuka sempurna? Apakah mekanisme advance film berjalan dengan baik? Apakah focusing rangefinder akurat? Bagaimana hasil setiap kombinasi aperture dan shutter speed?
Semua itu baru bisa diketahui setelah film dipotret, diproses, kemudian dilihat satu per satu.
Mungkin bagi sebagian orang, proses seperti ini terdengar merepotkan. Bahkan kalau dibuat dalam bentuk meme video, saya rasa akan sangat relate dengan pengalaman menggunakan kamera antik seperti Leica III D.R.P. ini.
Tetapi justru di situlah menariknya.

Street Hawkers (FOTO: YOGI ARDHI/KANGJEPRET.ID) (Data: Leica III DRP, Industar-22 50mm/3.5 Kodak Colorplus 200 )
Memotret dengan kamera tua memaksa kita mengubah pace. Kita yang sehari-hari terbiasa dengan kamera ponsel, DSLR, mirrorless, atau kamera analog SLR generasi yang lebih muda, tiba-tiba harus memperlambat semuanya.
Sebelum memotret, kita harus berpikir.
Berapa shutter speed yang digunakan? Berapa aperture? Di mana posisi subjek? Seberapa jauh jaraknya? Apakah fokus sudah benar? Apakah shutter bekerja sesuai harapan? Dan yang paling penting, apakah momen tersebut cukup penting untuk menghabiskan satu dari 36 frame yang tersedia?
Tidak ada preview. Tidak ada tombol delete. Satu frame sudah terpakai, ya sudah.
Menariknya, keterbatasan itu justru membuat setiap jepretan terasa lebih bernilai. Fotografer dipaksa untuk lebih selektif dan lebih sadar terhadap apa yang sedang dilakukan.

Leica III D.R.P. tahun 1934 pada akhirnya bukan sekadar kamera tua yang digunakan untuk menghasilkan gambar. Ia menjadi semacam alat untuk mengingatkan bahwa fotografi bukan hanya soal seberapa cepat kamera bisa bekerja.
Fotografi juga tentang bagaimana fotografer membaca cahaya, memprediksi momen, mengukur jarak, menentukan eksposur, dan mengambil keputusan.
Teknologi modern memang membuat proses tersebut jauh lebih mudah. Namun sesekali kembali menggunakan kamera tua seperti ini memberikan pengalaman berbeda.
Riweuh, memang. Hese, sudah pasti.
Tapi ketika akhirnya ada satu frame yang berhasil menangkap momen dengan benar, rasanya memang ada kepuasan tersendiri.
Dan mungkin, justru ketidaksempurnaan kamera serta hasil fotonya itulah yang membuat Leica tua ini menjadi “sempurna”
