
KANGJEPRET.ID, Pameran foto analog bertajuk “Pamer ‘ah” digelar di Cafe Satu Atap, Bandung pada 22–29 Januari 2026, menghadirkan karya-karya fotografi urban hasil jepretan kamera analog.
Pameran ini diikuti oleh lima peserta, yakni Artya Laras Setiaharjana, Derisan Nugraha, Matius Caesar Laksmana, M Billal Alfarizi, dan Redha Alfarizi, yang masing-masing menampilkan sudut pandang personal terhadap lanskap kota dan kehidupan sehari-hari.
Mengusung medium fotografi analog, pameran ini menonjolkan proses yang perlahan dan reflektif di tengah dominasi fotografi digital. Setiap karya diproduksi menggunakan kamera analog dengan karakter visual yang khas. Ciri visual yang khas termasuk butiran film, kontras alami, dan ketidaksempurnaan yang justru menjadi daya tarik.

Sejumlah karya menampilkan bangunan-bangunan peninggalan era Belanda di wilayah Cimahi, yang direkam dengan pendekatan dokumenter sekaligus personal. Bangunan tua tersebut dipotret sebagai saksi sejarah yang kini berada di tengah tekanan modernisasi dan perubahan fungsi ruang kota.
Tema urban menjadi benang merah dalam keseluruhan pameran. Para peserta merekam berbagai fenomena kota yang kerap luput dari perhatian, mulai dari mural dan vandalisme , tumpukan sampah , hingga detail-detail ruang publik yang mencerminkan relasi manusia dengan lingkungannya. Kota tidak hanya dipotret sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang hidup dan terus berubah.
Menurut salah satu peserta pameran M Billal Alfarizi, pameran ini berawal dari keinginan berpameran agar tidak hanya dilihat di sosial media. “Kami pun ingin menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa kamera film ini masih ada lho,” ujarnya.

Selain Bandung dan Cimahi, pameran ini juga menghadirkan foto-foto yang diambil di luar wilayah tersebut, salah satunya Setu Babakan, Depok.
Fotografi analog memberikan tantangan tersendiri bagi sang pemotret. Hasilnya suit ditebak sebelum film diproses dan discan terutama bagi mereka yang telah terbiasa dimanjakan oleh teknologi fotografi digital. Diperlukan kemampuan previsualisasi dan pengetahuan teknis foto yang mendalam.
Melalui tajuk “Pamer-Ah”, para fotografer ingin menghadirkan pameran yang terasa santai dan dekat, tanpa jarak antara karya dan penikmatnya. Judul tersebut sekaligus menjadi refleksi sikap para peserta yang memandang pameran sebagai ruang berbagi proses, bukan sekadar ajang menampilkan hasil akhir.

Pemotretan dilakukan dengan beragam kamera saku dan SLR analog. Beberapa foto tampak didominasi nuansa kelam. Secara selewat tampak under exposed. Bahkan foto bertema vandalisme karya Artya memiliki pola berulang garis vértikal berwarna jingga. Hal ini akibat cahaya yang bocor menembus ruang film yang mestinya kedap cahaya.
Bagi penikmat kamera analog generasi sekarang cacat teknis seperti ini menjadi keindahan tersendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana standard estetika foto yang bergeser dari waktu ke waktu.
Hal serupa terjadi pada bingkai foto bertema Setu Babakan karya Caesar. Pada salah satu frame tampak bocoran cahaya pada ruang kamera membentuk citra seperti jilatan api. Frase film kebakar tampaknya memiliki mana harfiah pada foto Caesar ini.
Pameran foto analog “Pamer-Ah” terbuka untuk umum selama sepekan dan menjadi ruang temu bagi pecinta fotografi, seni visual, serta masyarakat yang tertarik pada isu-isu perkotaan. Lewat medium analog, pameran ini mengajak pengunjung untuk melambat sejenak dan melihat kembali wajah kota melalui bingkai yang jujur dan apa adanya.
(Foto-foto pada tulisan ini menggunakan kamera ponsel Xiaomi 14T)
