
KANGJEPRET.ID – Gedung Bandung Creative Hub menjadi saksi bisu atas kepekaan visual mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Halim Sanusi melalui pameran fotografi bertajuk “Invisible Stories” di gedung Bandung Creative Hub, Bandung, Rabu (11/2/2026).
Tidak sekedar ajang unjuk kebolehan teknis, pameran ini menjadi melainkan sebuah upaya kolektif mahasiswa untuk menghadirkan kembali wajah-wajah yang selama ini terabaikan dalam rutinitas kota.
Melalui lensa kamera, para mahasiswa mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan menyelami narasi kehidupan di balik profesi-profesi yang sering kali dipandang sebelah mata.
Respons hangat datang dari para pengunjung yang memadati area galeri. Banyak di antaranya merasa tergetar saat berhadapan langsung dengan potret-potret hitam putih yang mendominasi pameran, seperti karya berjudul “Di Bahu yang Tegar”.

Foto tersebut dinilai berhasil membangkitkan memori personal dan emosional bagi siapa pun yang melihatnya, membawa ingatan kolektif pada sosok tangguh seperti ayah atau tulang punggung keluarga. Atmosfer di Bandung Creative Hub pun berubah menjadi ruang refleksi, di mana batasan antara dunia akademik dan realitas sosial di akar rumput seolah melebur.
Kekuatan pameran ini terletak pada keberhasilan mahasiswa dalam menangkap “jiwa” dari setiap subjek, bukan hanya sekadar merekam kehadiran fisik mereka. Kehadiran teknologi kode batang (QR Code) di samping setiap bingkai foto menjadi nilai tambah yang krusial, karena memungkinkan pengunjung untuk membaca filosofi dan cerita latar belakang yang mendalam dari setiap profesi.
Integrasi antara visual dan literasi ini memberikan pemahaman utuh bahwa setiap individu yang dipotret memiliki kontribusi luar biasa bagi kehidupan kota, terlepas dari seberapa besar atau kecil peran mereka di mata publik.

Melalui acara ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Halim Sanusi menegaskan peran mereka sebagai komunikator sosial yang mampu menjembatani empati. Harapan besar tertuju pada setiap pengunjung agar setelah melangkah keluar dari Bandung Creative Hub, mereka tidak lagi melihat profesi seperti pedagang kaki lima atau pekerja lapangan dengan tatapan sepele.
Pameran “Invisible Stories” berhasil membuktikan bahwa fotografi mampu menjadi alat yang ampuh untuk memanusiakan manusia dan memastikan bahwa cerita-cerita yang sebelumnya tak terdengar kini mendapatkan tempat di hati masyarakat.
